“Miskin Garis Keras…”

Ada dua cara menyikapi kemiskinan. Pertama dengan muram, kedua dengan ceria. Miskin tapi muram itu sudah biasa. Miskin ceria, itu luar biasa.Jalan itu lah yang dipilih seorang nenek hebat dari Saga. sesuai judul buku ini. “Kita ini miskin ceria”. Begitu ujar sang nenek saat mengantar cucunya tidur, “Selain itu, bukan baru kali ini saja kita miskin. Jadi tidak usah cemas. Tetaplah percaya diri”. Imbuhnya.

Cerita nenek hebat dari saga (Saga No Gabai Bachan), memang cerita tentang kemiskinan. Kemiskinan yang melanda masyarakat Jepang, beberapa saat setelah bom atom dijatuhkan tahun 1945. Kemiskinan yang kasat mata. Tapi cerita ini juga penuh inspirasi, terutama bagaimana mensiasati kemiskinan, hingga menjadi kondisi yang menyenangkan.

Nenek dari saga, selalu banyak akal untuk memenuhi kebutuhannya. Setiap pagi ia berangkat kerja sebagai petugas kebersihan di universitas setempat. Siang hari, ia kembali ke rumah dengan setumpuk barang bekas dari alumunium, besi, atau apa saja yang dapat menempel di magnet. Ya! sang nenek mengikat sebuah magnet di tubuhnya, sehingga sepanjang perjalanan apa saja yang menempel, terutama besi dan alumunium akan dikumpulkan untuk di jual sebagai rongsokan.

Untuk kebutuhan lainnya, ia merentangkan jala di suangai yang mengalir di belakang rumah. Apa saja yang tersangkut di jala itu, makanan, buah, sayuran atau bahkan sendal sekalipun akan digunakan untuk keperluan hidup. Tak jarang mereka mendapatkan buah-buah yang masih segar, yang dihanyutkan petani karena bentuknya tidak bagus.

“sungai di belakang rumah seperti supermarket”, begitu sang nenek menjelaskan. Apa saja ada, hanya saja apa barang yang tersedia bukan karena permintaan pembeli tapi sepenuhnya tergantung supermarket mau menyediakan apa. tapi, lanjut si nenek, ini supermarket super, karena barang langsung diantar ke belakang rumah. Bila tidak ada satupun yang tersangkut di jala itu, dengan enteng sang nenek akan berkata, ” Hari ini, supermarket tutup…”.

Begitulah penuh ceria dan tak mau kalah oleh kondisi, si nenek terus menjalani hidup bersama seorang cucunya. kemiskinan jadi bukan apa-apa dibanding keinganan untuk terus bertahan hidup. Sang nenek, juga menunjukkan, salah satu sumber keceriaan dalam menghadapi kemiskinan, adalah dengan tetap berani menolong orang lain. Tak jarang nenek menyiapkan buah, makanan atau bahkan uangnya untuk diberikan ke orang, yang sewaktu-waktu datang ke rumahnya.

Kisah nyata ini menarik dibaca (sudah diterjemahkan ke bahasa indonesia), sebagai bahan renungan, banyak pilihan yang dapat kita ambil ketika kondisi tidak sesuai dengan harapan. (*)

Tulisan Lama : Jangan Bawa Kotoran Kemana-mana

Jangan membawa “kotoran” anda kemana-mana. Kotoran itu tidak berguna buat anda, tidak juga buat orang di sekitar anda. Sadar atau tidak, banyak orang membawa kotorannya kemana-mana, akibatnya kehadirannya tidak dikehendaki oleh lingkungan di sekitar.

kehidupan tak pernah menawarkan kemudahan. Tapi kehidupan juga dapat disikapi dengan senyum dan keriangan hati. Untuk terus dapat tersenyum, tak mesti harus melulu berpikir serius, atau harus mendalami hal-hal besar. Peristiwa sehari-hari adalah bahan pelajaran berharga yang tak ada habisnya.
Lanjutkan membaca “Tulisan Lama : Jangan Bawa Kotoran Kemana-mana”

Memberi Dan Menjadi

“Memberi! Bukan menerima!”. Begitu kata Pak guru Arfan, dalam film Laskar Pelangi. Nasehat Pak Arfan itu, diberikan untuk menyemangati anak didiknya, yang memang berasal dari keluarga miskin. kita sudah tahu, bagaimana pendidikan yang ditanamkan Pak guru Arfan berhasil mencetak seorang Andrea Hirata, Penulis trilogi novel Laskar Pelangi.

Singkatnya, saat ini ada semacam kesadaran bahwa apapun yang diupayakan oleh seseorang, berhasil atau tidaknya, sangat ditentukan seberapa besar ia memberi. Dalam arti luas, memberi disini adalah memberi segala sesuatu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut.
Lanjutkan membaca “Memberi Dan Menjadi”

Kura-kura Bawel

Konon ada seekor kura-kura yang selalu bicara. Kapanpun dia ketemu dengan binatang di sekitar danau pegunungan tempatnya hidup, selalu ia bicara dan bicara.

Akibatnya, banyak binatang yang merasa terganggu. Mereka lelah mendengar kura-kura bawel yang selalu mengoceh itu.

Hingga suatu hari, datanglah sepasang Angsa putih ke danau. sepasang angsa ini hanya singgah sebentar untuk kembali meneruskan perjalanan mereka.

Kura-kura bawel yang tahu kedatangan sepasang Angsa putih, menghampiri mereka.

“Aku iri dengan kalian, bisa terbang dan menikmati indahnya alam”, kata Kura-kura memulai pembicaraan. Tanpa berhenti, kura-kura bawel terus mengoceh, ia ingin sekali bisa terbang. Ingin menjelajahi alam, dan tidak seperti sekarang, ia hanya dapat berjalan lambat.

“Kalau kau mau menikmati terbang, boleh..”, potong seekor angsa.

“hanya saja ada satu syarat..” lanjutnya.

Lanjutkan membaca “Kura-kura Bawel”

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun. Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.”

QS. Ibrahim: 24-27