Mampir

Tiba-tiba teringat dengan blog ini. Sudah lama tidak lihat. Entah mengapa, sontak saja ingat bahwa masih mempunyai blog meski jarang disambangi.

jadilah kini menulis tulisan ini. Hanya mampir, sekedar menyapa. boleh jadi ini awal dari akan seringmnya menulis di blog. atau malah awal dari tak lagi menyapa blog untuk waktu yang sekian lama.

kita liat saja.

Iklan

Menjemput Tuhan

image

Menjemput Tuhan? Pernah saya tidak pahami kalimat itu. Setelah membaca beberapa tulisan, saya baru tersadar. Ternyata Tuhan mempunyai tempat atau situasi “favorit” yang kerap dikunjungi. Benar! Tuhan ada dimana-mana, bahkan lebih dekat dengan urat leher, kemanapun kita berpaling Tuhan selalu ada.

Menjemput Tuhan, lebih pada upaya seorang hamba untuk berusaha mendekati Tuhan pada saat-saat Tuhan seolah “hadir”.

Seorang ustad pernah mengatakan, Tuhan turun pada sepertiga malam untuk mendengar hambanya yang berdoa sekaligus yang merintih menyesali dosa-dosanya. Inilah salah satu waktu yang paling baik untuk menjemput Tuhan. Kita mengenalnya dengan sholat tahajud.

Pada bagian lain, saya juga pernah mendengar, Tuhan hadir pada mereka yang teraniaya, orang-orang miskin yang menjaga kehormatan serta anak- anak muda yang menghabiskan waktunya untuk berbuat kebaikan pada sang pencipta.

Selain itu, Tuhan juga “hadir” pada mereka yang dermawan. Bukankah orang dermawan disukai manusia dan juga disukai Tuhan. Dermawan, secara sederhana adalah mereka yang selalu bersedia membantu sesama, bermanfaat bagi diri dan lingkungannya, dan tak lelah memberi meski hanya seutas senyum bagi saudaranya.

Mari menjemput Tuhan.

Potret buram Pendidikan

imagesPotret pendidikan kita memang bukan potret cemerlang. Kini, kondisinya semakin buram dengan kasus keterlambatan Ujian Nasional. Kegiatan yang telah dilaksanakan sejak tahun 2004 itu, tiba-tiba jadi sesuatu yang sangat membingungkan. Bagaimana mungkin, Ujian Nasional Yang telah direncanakan jauh-jauh hari, tiba-tiba tidak tepat jadwal, diundur, semata karena keterlambatan kertas ujian?

Alasannya sangat teknis, dan karenanya tidak masuk akal. Itu sebabnya, beredar kabar tak sedap soal “kongkalingkong” dibalik pengadaan kertas ujian. Terungkap misalnya, pemenang tender pengadaan soal ujian Nasioanal ternyata membandrol harga yang lebih mahal ketimbang saingannya. kabar tak sedap ini akan terus bertambah, tapi soalnya memang kita saat ini menjadi bangsa yang gagal dalam prioritaskan pendidikan.

Potret buram semacam ini, semakin buram karena banyak pihak yang kemudian saling menyalahkan. semestinya ada pihak yang erani mengambil tanggung jawab. Mendikbud, tak usah sungkan untuk menunjuk dan menyeret ke aparat hukum, siapapun yang diniali menyebabkan amburadulnya ujian Nasional kali ini. Ini penting, agar ke depan, masalah pendidikan tidak lagi dipandang sebelah mata.

Tulisan Terakhir Widjajono…

 Kepergian Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Widjajono Partowidagdo yang begitu mendadak meninggalkan kenangan bagi orang-orang di dekatnya.

Pria bersahaja itu meninggal dunia dalam pendakiannya di Gunung Tambora, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (21/4/2012). Tidak ada yang menyangka bila pria pencinta alam itu pergi sedemikian cepat. Tak ada tanda-tanda bahwa Widjajono mengalami sakit. Juga tak ada pesan khusus yang ia sampaikan kepada keluarga atau orang-orang dekatnya.

Sebelum berpulang, Guru Besar Institut Teknologi Bandung itu memang sempat mengirimkan pesan dimailing list Ikatan Alumni ITB. Dalam tulisan itu, ia berpesan kepada rekan-rekannya untuk tetap berserah kepada Yang Maha Esa. Inilah tulisan tangan terakhir sang profesor itu sebelum meninggalkan dunia:

Kalau kita menyayangi orang-orang yang kita pimpin, Insya Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang akan menunjukkan cara untuk membuat mereka dan kita lebih baik. Tuhan itu Maha Pencipta, segala kehendak-Nya terjadi.

Saya biasa tidur jam 20.00 WIB dan bangun jam 02.00 WIB pagi lalu Salat malam dan meditasi serta ceragem sekitar 30 menit, lalu buka komputer buat tulisan atau nulis email.

Dalam meditasi biasa menyebutkan:

“Tuhan Engkau Maha Pengasih dan Penyayang, aku sayang kepadaMu dan sayangilah aku… Tuhan Engkau Maha Pencipta, segala kehendak-Mu terjadi…”

Lalu saya memohon apa yang saya mau…
(dan diakhiri dgn mengucap)
“Terima kasih Tuhan atas karuniaMu.”

Subuh saya Sholat di Mesjid sebelah rumah lalu jalan kaki dari Ciragil ke Taman Jenggala (pp sekitar 4 kilometer). Saya menyapa Satpam, Pembantu dan Orang Jualan yang saya temui di jalan dan akibatnya saya juga disapa oleh yang punya rumah (banyak Pejabat, Pengusaha dan Diplomat), sehingga saya memulai setiap hari dengan kedamaian dan optimisme karena saya percaya bahwa apa yang Dia kehendaki terjadi dan saya selain sudah memohon dan bersyukur juga menyayangi ciptaan-Nya dan berusaha membuat keadaan lebih baik. Oh ya, Tuhan tidak pernah kehabisan akal, jadi kita tidak perlu kuatir. Percayalah…

Salam,

widjajono

Perihal kebiasaan Widjajono menyapa para tetangganya itu, petugas keamanan di rumahnya membenarkannya. Indra Gunawan, petugas keamanan yang berjaga di lingkungan tempat tinggal Widjajono, mengatakan bahwa pria kelaihran Magelang, Jawa Tengah, itu selalu berkeliling dalam lingkungan kompleks perumahan dan menyapa siapa saja meski orang tersebut tak dikenalnya.

Meskipun memiliki jabatan tinggi, kata Indra, Guru Besar ITB tersebut tidak pernah lupa terhadap wong cilik seperti dirinya. “Ia selalu memberikan uang kepada saya, bahkan makanan setiap hari,” katanya seperti dikutip Tribunnews.com. Menurut Indra, Widjajono juga kerap memborong tempe yang dijajakan oleh penjual keliling di perumahan tersebut.(*)

sumber: kompas.com

Hanya Ada TV ‘Jadul’ di Ruang Kerja Warren Buffett

 Apa yang Anda bayangkan dalam sebuah ruang kerja   milik salah satu orang terkaya di dunia? Jika semua  serba mutakhir yang ada dalam benak Anda, maka Anda salah.

Ini pula yang awalnya ada dalam bayangan penulis dan kulomnis kondang Arianna Huffington. Hingga suatu saat ia menyambangi ruang kerja Warren Buffett, orang terkaya di dunia kedua setelah melewati angka kekayaan Bill Gates, versi majalah Forbes.

Di akun Twitternya, @ariannahuff, Huffington memajang foto Buffett yang tersenyum di samping televisi yang–jangankan LCD atau LED–bukan layar datar, melainkan berlayar cembung alias TV keluaran era sebelum 2000-an. Saat foto dijepret, ia tengah menonton siaran berita di stasiun CNBC.

Bukan itu saja yang membuat Huffington terhenyak. Buffett juga tak memiliki Blackberry, iPhone, atau laptop. Ruangannya terlihat sangat sederhana, dengan tiga lemari panel dan meja kerja tak terlalu besar di sampingnya. TV jadul-nya adalah di bagian tengah lemari panel, di atas papan yang bisa diputar sehingga ia tak perlu memiringkan kepala jika ingin menonton tayangan televisi.

Warren Edward Buffett yang lahir di Omaha, Nebraska, Amerika Serikat, 30 Agustus 1930 adalah seorang investor dan pengusaha Amerika Serikat ternama. Ia memiliki julukan Wizard of Omaha. Buffett telah mengumpulkan kekayaan yang sangat besar dari kecerdikannya berinvestasi melalui perusahaannya Berkshire Hathaway tempat dia memegang 38 persen saham. Dengan perkiraan pendapatan bersih USD 44 miliar pada 2005, dia menduduki urutan kedua sebagai orang terkaya kedua dunia menurutForbes atau ada di belakang Bill Gates.

Pada tahun 2010, pria yang juga berjuluk sang bijak dari Omaha ini berhasil mendepak Bill Gates dari peringkat pertama orang terkaya di dunia. Menurut majalah Forbes, kekayaannya meningkat USD 10 miliar pada saat yang sama menjadi USD 62 miliar.

Foto Huffington, lebih dari sekadar jutaan kata-kata tentang kesederhanaan: bahwa kekayaan tak selalu berbanding lurus dengan gaya hidup dan keserbamewahan.(*)

sumber : kompas.com

Salah Erami Telur, Ayam Ini Beranak Bebek

Mereka mungkin tidak terlihat seperti induk mereka – atau bersuara seperti dia – tapi hal ini terlihat tak mengusik kebersamaan mereka.

Hilda, ayam yang salah mengeram di atas telur bebek, kini menjadi induk lima ekor anak bebek India. “Sejak mereka muncul dari cangkangnya satu per satu, dia sudah menunjukkan rasa sayangnya,” kata Philip Palmer, petani pemilik hewan-hewan ini. Hilda, katanya, tidak tampak terganggu sama sekali ketika anak-anak itik itu mengiringinya kemanapun ia pergi.

Masalah, katanya, muncul ketika anak-anaknya mulai belajar berenang, ujar Palmer. Hilda, yang tentu saja tak bisa berenang, tampak cemas di tepi kolam.

Palmer, yang mengelola tanah pertanian di Poole, Dorset, Inggris, menceritakan Hilda sebagai ‘induk yang penuh cinta’. “Ia hampir tidak meninggalkan telur bebek itu sampai mereka menetas setelah 28 hari,” katanya.

Bagi Palmer, Hilda memberi banyak ‘pelajaran’. “Ini sangat mengejutkan namun indah. Dia telah terbukti sangat mampu untuk menyatukan mereka,” katanya. “Anak itik yang tidak menyadari bahwa ibu mereka adalah ayam betina dan Hilda juga sama sekali tidak menyadari bahwa anak-anaknya sebenarnya adalah bebek, bukan ayam.”(*)

sumber : kompas.com